Assalamu’alaikum, halo temen-temen semua semoga kabar kalian baik-baik aja ya, Aamiin. Di blog kali ini, seperti biasanya kita akan ngobrol dan membahas suatu topik yang aku rasa perlu untuk direfleksikan ke dalam diri dan hidup kita.
Hmmm.. kalian tahu ngga, kalau akhir-akhir
ini sebagian dari lapisan manusia lagi ngerasain dan nemuin yang namanya “SELF HEALING".
Kondisi yang hadir dan dirasakan dalam hidup setiap orang tentu berbeda-beda dan ada banyak cara dalam menyikapinya. Menikmati hidup menjadi proses yang akan terus berlangsung hingga pada akhirnya dipisahkan oleh maut atau kematian. Sebelum membicarakan topik kali ini, aku ingin menelusuri kebiasaan yang seharusnya bisa menjadi pilihan dan lebih baik lagi jika bisa diterapkan. Hal itu adalah “Digital Minimalism”.
Pernah ngga kamu menanyakan apa yang kamu rasakan hari ini pada dirimu sendiri? Menjalin hubungan yang baik dengan diri sendiri adalah kunci awal untuk melakukan sebuah tindakan yang tepat di masa depan. Namun, tidak selalu semuanya berjalan dengan baik pasti akan ada banyak distraksi yang datang dan memberikan pengaruh bagi diri sehingga tidak jarang emosi menjadi tidak stabil.
Kembali ke self healing tadi, setiap orang akan merespon distraksi yang ada dalam hidup baik positif maupun negatif. Tetapi, biasanya self healing hanya dikenal dengan proses pemulihan terhadap masa lalu yang cukup sulit dan menjadi luka batin bagi orang tersebut sampai di masa sekarang. Nah, dari sanalah ku memunculkan pertanyaan “apakah self healing hanya berangkat dari kejadian di masa lalu???” Jawaban pastinya tentu akan dijawab berdasarkan pada apa yang aku alami dan rasakan (So, untuk yang merasa ini tidak sejalan dengan hidupmu boleh diskip aja).
Manusia akan menjalani 24 jam dalam seharinya untuk melakukan berbagai aktivitas yang ia inginkan. Semua hal itu didapatkan dari hal-hal yang dilihat, didengar maupun dirasakan. Informasi menjadi sebuah pesan yang membuat aku, kamu dan siapapun itu saling terhubung satu sama lain. Dari sinilah aku melihat bahwa kita dapat saling mengetahui satu sama lain apa yang sedang dikerjakan, mendapatkan feedback dan tak jarang memberikan narasi yang persuasif sehingga mampu berpengaruh pada cara pandang bahkan lebih luasnya terhadap kualitas hidup seseorang. Sadarkah kamu bahwa hal itu dapat membuat hadirnya self healing? Ya, mungkin ini belum terlihat. Mari kita telusuri lebih lanjut.
Hal-hal yang kamu lihat, dengar dan rasakan setiap harinya memiliki sumber yang beragam baik positif maupun negatif tergantung cara pandang masing-masing. Sebuah tekanan atau emosi yang dirasakan ternyata juga bisa disebabkan oleh kejadian di masa sekarang. Contohnya apa? Media atau akun-akun yang kamu follow. Era digital menjadi sumber makanan bagi siapapun untuk memproduksi sebuah platform dengan konteks dan konten yang bermacam-macam.
Coba kamu lihat ponselmu sekarang, berapa banyak informasi yang kamu terima? Sangat banyak bukan? Namun, sering kali tidak menyadari bahwa informasi-informasi tersebut dapat mempengaruhi kondisi mentalmu. Postingan yang terkadang maksudnya baik saja masih ada yang merasa “itu tidak baik untuk saya” atau merasa terganggu karena vibesnya selalu menampilkan hal positif yang kamu juga ingin lakukan, apalagi untuk postingan yang benar-benar menjurus ke hal negatif? Lalu, apa yang akan terjadi? Sebagian orang akan merasakan kepanikan, iri yang bertambah, menyalahkan diri sendiri atau bahkan merasa dikucilkan. So sad this.
Tujuanku disini adalah ingin mengenalkan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui namun bukan sekedar “menerima” tapi harus ada nilai esensial didalamnya yang mampu kamu berikan. Pertanyaannya adalah bagaimana agar bisa mendapatkan nilai esensial tersebut?
HIDUPLAH YANG CUKUP bukan MAHAL ataupun MURAH. Karena hidup yang berharga tak selalu dinilai dengan harta. Konsep yang terus aku coba hidupkan. Sebenarnya ada nama istilah lainnya yang cocok untuk keadaan saat ini yaitu “DIGITAL MINIMALISM”. Healing yang tepat salah satunya adalah dengan digital minimalism. Makanan, fashion, pekerjaan, prestasi, dan hal lainnya adalah budaya yang bisa dikembangkan dalam berbagai media diantaranya facebook, instagram, tiktok dan lain-lain. Faktanya mereka hanyalah sebuah tempat dan isinya adalah user atau pengguna yang kerap mengupload dari segala sisi kehidupan.
Penting
bagi kita waspada terhadap segala informasi yang ada, karena bisa mempengaruhi
kesehatan diri termasuk mental. Melihat sebuah kesenangan bisa jadi sedih,
melihat kesedihan bisa jadi senang. Sungguh problematika yang dekat dengan
manusia. Tapi tenang aja, kalian bisa banget coba digital minimalism ini.
caranya??? Menyortir akun-akun media yang tidak bermanfaat bagi
hidup/karirmu sehingga kamu hanya akan menerima insight yang benar-benar kamu
butuhkan.
Mempraktikkan cara diatas memang tidak mudah, namun bisa kamu coba bertahap ya. Diri juga perlu membatasi pada hal-hal yang sifatnya hanya menuntut kesenangan semata, Ubahlah dengan memberi asupan informasi digital yang memiliki manfaat seperti menambah rasa syukur, meningkatkan kualitas hidup sehat, sikap menghargai dan lain-lain.
Minimalism tidak hanya soal barang melainkan bisa digunakan juga untuk kepentingan lain misalnya dalam hal digital minimalism ini.
Mari temukan konsep dalam mengelola diri yang tepat agar healingmu tak hanya sebatas sesaat tetapi bermanfaat.
Sekian dari aku, jaga self acceptance (menerima diri apa adanya), jangan kubur mimpimu, maafkan diri dan terpenting buatlah what to do list hidupmu.

Comments
Post a Comment