Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh teman-teman semua senang bisa berjumpa lagi diblog ini!! meskipun diriku pribadi ga tahu pembaca blog ini darimana saja dan siapa saja, semoga bisa menjadi bagian dari bacaan positif ya (ambil baiknya dan kamu bisa berbagi juga opinimu dikolom komentar hehe)
Kembalinya diriku ke blog ini bukan karena bosen hidup wkwkwk tapi memang mau menghidupkan blog ini biar bisa terus menuangkan segala apa yang kurasa dalam bentuk opini
sederhana. Kalian bisa like or dislike untuk setiap tulisanku diblog ini.
Oh iya, kabar kalian gimana? Sehat-sehat ya
semuaa, kalian hebat sudah berjuang dan berjalan hingga saat ini, do your best
in your way!
Akhir-akhir ini sering baca atau melihat
lingkungan sekitar ataupun case kehidupan “anak-anak muda” yang masih merasa
terancam dalam hidupnya sendiri.
Eiiits, terancam disini bukan mengarah ke
penganiayaan yang kasar ya wkwkwk tapi melainkan ke hal-hal yang dilakukan itu
merasa tidak berguna, tidak keren, tidak seperti mereka yang punya kekuasaan
atau privilege dan masih banyakkk lagi. Hal itu sampai membuat diri merasa
down, ingin menyerah atau bahkan menyalahkan diri sendiri.
Padahal kalau dipikir-pikir, ada banyak hal
yang harus dilakukan ntah untuk esok hari, ntah itu untuk hari ini, bukan? Lagi-lagi
pergolakan hati dan pikiran terus berjalan..
Perasaan “merendah” seperti yang d isebutkan diatas masuk ke kategori Inferior. Pernah denger kata itu, ga??
Okay, inferior itu sifat yang dekat dengan
kesan minder atau tidak percaya diri, guys. Pasti pernah ngerasain juga, kan? Tenang,
bisa diatasin kok.
Sebetulnya, ada lagi kebalikan dari si inferior
ini yaitu Superior, wah ini apalagi coba? Wkwkwk
Waiiit kita coba kenali dulu yuk!
Superior itu lebih dekat dengan perasaan
lebih tinggi atau lebih berkuasa atas segalanya. Ini mirip-mirip seperti
memberi makan ego lebih banyak:v
Dari kedua sifat inferior dan superior ini, boleh atau tidak untuk dimiliki?? Ya sah-sah aja kok, asalkan tidak mendominasi disalah satunya ya
Btw, cara agar tidak mendominasi salah satu aja itu gimana caranya? (duh dari tadi kebanyakan tanda tanya ya😂😁)
Gapapa, biar ga sesat dijalan mending baca
sampai habisss *asiiikk😆
Ini sedikit resume dari beberapa review di
internet yang kubaca tentang buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga
(soon cari bukunya:v) dan resume dari buku ini akan ku kaitkan dengan opiniku
pribadi ya:
1. “Hidup itu bukanlah sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu
yang anda pilih sendiri.”
Nah, sedikit pernyataan ini tuh bilang
kalau ga perlu menggantungkan pilihan terhadap pendapat orang lain atau
perlakuan orang lain ke kita. Pilihan yang kita ambil itu, justru harus
berdasarkan pertimbangan diri kita tentunya bahkan dalam beragama pun diajarkan
untuk curhat sama Allah, sang Maha Pencipta. Berdo’a itu bukan suatu hal yang
rendah, melainkan itu adalah wujud syukur dan cinta. So, kenapa harus takut dengan
apa yang orang lain lakukan/berikan?? Tetap pegang prinsipmu dan jangan jauh
dari-Nya.
2. “Anda hanya kurang berani menjadi bahagia, ketika mencoba mengubah arah
kehidupan, keberanian anda diuji”.
Ini juga sering banget kejadian, hidup
dalam bayang-bayang zona nyaman memang safety, tapi kalau melihat efek jangka
panjang tentu akan sedikit membuat flow hidup kurang berwarna. Terkadang, perlu
untuk berani mengatakan A,B,C or Z atau perlu untuk mencoba hal baru tanpa
harus takut dengan reaction dari siapapun yang mendengar/melihat keputusanmu. Selagi
positif dan baik (meskipun lagi-lagi baik itu relatif karena tidak semua orang
suka) lakukan aja.
3. “Perasaan inferior yang sehat timbul dari membandingkan diri sendiri
dengan keadaan diri yang ideal, bukan dari membandingkan diri dengan orang lain”.
Menurutku inferior ataupun superior
diperlukan sebagai ajang pengingat bagi diri sendiri. Tidak perlu berlebihan di
satu sisi. Dimana, inferior itu dekat dengan pesimis dan superiror dekat dengan
optimis sehingga kedua sisi itu seperti mata uang logam. Sama-sama bernilai di
satu benda uang logam itu.
Punya sedikit rasa pesimis agar tidak cepat puas
dan bangkit mengembangkan diri, begitu juga dengan punya rasa optimis yang akan
menjaga rasa semangat akan hal apapun yang dilewati.
Itulah sedikit ringkasan yang sudah kubaca. Pada intinya, kita bisa memilih jalan terbaik yang diyakini dengan prinsip yang utuh (sesuaikan dengan prinsip dalam beragama masing-masing) agar hal tersebut tetap bisa mendekatkan diri kepada sang pencipta. Resiko akan selalu ada, baik disukai ataupun tidak. Kuncinya berdamai dengan diri sendiri dan menjalani hubungan yang baik dengan Tuhan😇
Semua butuh proses, coba mulai dari
pilihan-pilihan terkecil dalam hidupmu.
Contoh yang diriku terapkan sendiri yaitu
soal sosial media.
Ini adalah hal yang krusial buatku, karena
apa? karena menyangkut privasi, bacaan, pengetahuan, dan masih banyak hal
lainnya. Meninggalkan instagram mungkin agak mengagetkan, bahkan dirku sendiri
kaget wkwkwk. Ya karena ada satu hal yang menurutku kurang baik untuk jangka
panjang mulai dari soal waktu, dan hal lain yang tidak bisa kusebutkan
disini (tetap menggunakan namun untuk keperluan kerja dengan akun milik tempat bekerja) jadi keputusannya memilih untuk pindah ke platform lain seperti Linkedin. Tentu keputusan
ini bukan berarti hanya diriku aja yang merasakan, tapi orang lain juga. Ada yang
bilang aneh, kok begitu dan begini blablabla. Tapi kembali lagi, semua pilihan
yang ga semua orang memahami dan ga bisa seenak jidat mengatur atau menghakimi
pilihan siapapun.
Hal itu sederhana, bukan? Nah belajar aja dari hal-hal itu untuk keputusan yang lebih besar kedepannya. Bukan maksud menggurui ya, ini hanya opiniku aja. Kalian bisa menentukan pilihan sendiri dengan perspektif atau prinsip kalian ya😊😀
Belajar dewasa dengan berani memutuskan
hal-hal kecil tanpa ada rasa takut akan komentar yang datang. Kalau terganggu,
bisa pindah kesituasi yang membuatmu nyaman dan merasa kembali hidup. Be
yourself..
Terima kasih sudah membaca blog ini lagiii,
next kita bahas topik lainnya (boleh ajukan dikolom komentar dibawah ya jika
ada dari kalian). See you, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Comments
Post a Comment