Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Alhamdulillah
berjumpa lagi dengan catatan kedua ya. Bagaimana nih puasa pertama? Lancar ya..
semoga berkah sampai akhir dan diberikan kesehatan selalu Aamiin. Mari saling
mendo’akan dan saling menguatkan dalam keadaan apapun itu. Sebab, kalau halnya
untuk kebaikan jangan pelit ya temen-temen dan ingat jangan pernah Hopelesss
(merasa gak ada harapan).
Halo
pembaca setia dan para pendatang baru *wkwkwk. Kalian bisa sampai ke blog ini
tahu dari mana sih? Sengaja stalking atau nyasarkah? huhuuu. Gak apalah yang
penting baca aja sampe abis, awas loh ya kalo ndak ..ya gapapa sih. Nah jadi aku
mau sedikit bicara tentang kita yang hidup diera digital ini yang memang hobinya melihat sesuatu itu dari keunikannya, ndak bosenin, seruuu, ada pembelajarannya, dan masih banyak lagi. Mau
tahu contohnya apa? ya seperti blog ini wkwkwk. Iyaa semacam blog, podcast, Youtube,
Twitter dan masih banyakkkk lagi.
Sekarang,
coba lihat menu di handphone kalian. Udah lihat? Lihat lah dan berapa banyak
menu social media yang ada disana?? Lebih dari satu kan yaa😁 Lalu,
kalian gunakan untuk apa? belajar? stalking? ghibah? ajang pamer? atau menjadi
motivasi? Eitsss… tapi kalian tahu nggak kalau hal tersebut secara tidak
langsung bisa mengganggu kesehatanmu jika tidak dikendalikan dengan baik. Tubuhmu
akan merespon segala apa yang kamu lihat dan nanti akan mulai berdampak secara
perlahan kedalam diri kamu, contohnya seperti Mental Health.,
judul catatan hari ini hehee.. oke lanjut.
Ada
apa dengan Mental Health? Jelas hal ini sangat perlu kita ketahui bersama. Kita
sering melihat bahkan dari diri kita sendiri yang suka sama “scrolling” di
sosial media. Apalagi kalau banyak tugas. Misalnya lagi skripsweet eh skripsian
gitu, terus harus mantengin laptop beberapa jam pasti lelah, setelah itu kalian
istirahat dengan cara? Scrolling medsos hmm iyee kan. Belajar 10 menit,
nge-sosmed hampir satu jam *JANGAN DICONTOH😐
Ada sedikit hal yang biasanya tidak
terpikirkan oleh diri kita pribadi. Kalau dalam ilmu psikologi ini sangat butuh
perhatian lebih. Perhatian apa nih? Perhatian
terhadap kesehatan mental. Ada beberapa orang yang ketika melihat sosial media
menjadi lebih tertekan. Apa sebabnya? Karena disosial media itu tempatnya
orang-orang bercerita hal-hal yang terkesan mewah baik itu tentang studi diluar
negeri, makan direstoran, travelling, barang-barang mewah, dan masih banyak
lagi. Sebegitu banyaknya sub sub hiburan di sosmed yakkk wkwkwk. Nah! gak semua orang pun melihat bahwa hal itu
biasa aja, terkadang ada yang menjadikan hal tersebut sebagai beban tersendiri.
Beredarnya
segala hal disosial media dapat membuat beberapa orang atau bahkan kalian akan merasa kepikiran, bahwa
kalian tertinggal dari mereka yang sudah ke luar negeri atau sudah lulus kuliah
tepat waktu dan lain- lain. Dan semua hal itu bisa berakhir dengan sebuah “kecemasan”.
Pernah merasa cemas? Pasti pernah ya gapapa asal bukan mencemaskan dia yang
belum halal untukmu😁 Oke baik lanjut..
Sebut
saja yang merasakan cemas itu namanya si A. nah kasus si A ini dia mencemaskan
bahwa orang lain sudah mencapai titik tertentu dalam hidupnya sementara kamu? Masih
berada dititik awal belum ada apa-apanya. Secara tidak sadar dengan kamu
membandingkan diri dengan hidup orang lain menjadi sumber utama timbulnya
sebuah kecemasan. Bahkan kemungkinan terburuknya hingga membuat kamu merasa
rendah diri dan hopeless, itu makanya kenapa aku bilang diawal jangan merasa
hopeless😉
Membandingkan
diri dengan orang lain terkadang juga perlu tetapi “hanya untuk memotivasi”
bukan ingin seperti “memaksakan kehendak menjadi diri orang lain” dan
hal itu lebih buruk daripada apa yang sudah kamu miliki. Maka bersyukurlah dan
berdo’alah. Karena Allah udah bilang “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku
ingat (pula) kepadamu.” Dan ada terusannya lagi, “Dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” Itu adalah penggalan dari surah
Al-Baqarah ayat 152.
Sudah
sepatutnya kita tidak lagi melihat hanya dengan kelebihan atau enaknya saja. Sebab
mereka yang hidup enak juga berawal dari perjuangan yang keras. Jadilah “dreamcatcher”.
Apa itu? Seorang pemimpi. Kalian boleh bermimpi dan punya harapan yang tinggi
asal tetap membumi. Jangan berlama-lama sedih apalagi kecewa. What will you do,
if you fail and fall? Apa coba artinye?wkwkwk. carilah kesibukan yang
bermanfaat dan menambah wawasan. So, never lose hope okay.
Satu pesen dariku, tetaplah menjadi diri kalian dimanapun berada, baik ketika rame ataupun lagi sendiri. Berlatih sabar, tekun dan semangat. Soal hasil serahkan sama Allah swt. belajar menghargai waktu, menghargai apa yang sudah kamu miliki dan saling berbagi. Oh iya, ketika distancing ini kalian ngapain aja? (boleh dung cerita dikolom komentar hehe).
Oke sampai disini ya A LITTLE NOTE FROM ME
TO YOU EDISI RAMADHAN
Sampai jumpa esok, Insyaa Allah.
Jangan lupa tingkatkan takwa dan rasa cinta
pada Sang Pencipta😊
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh…
Terimakasih kak dina atas ilmunya��
ReplyDeleteSama-sama, saling bagi ilmu juga boleh disini hehe
DeleteYaAllah ngerasa banget tu , belajar sedikit main hp nya lama 😓 next blog dibahas ya cara ngatasi nya 😣
ReplyDeleteSama, ini juga untuk dina pribadi wkwk
DeleteCara ngatasinnya ya? Oke insyaa Allah ya gus. Makasih😀