Seringkali diri kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang biasanya kita hadapi itu bukanlah sesuatu yang wajar atau dalam kata lain “tidak patut untuk dibiasakan”. Kalian pernah nggak ngerasa sendirian walau ditengah dekapan orang-orang disekeliling? Ngerasa capek, hidup kok gini-gini aja ya kacau banget, orang lain kaya nggak ada beban semua bisa didapet. Sementara, aku….. Eiiitsss udah nggak perlu diterusin lagi ya! Nah, sadar atau nggak, kondisi seperti itu sering disebut sebagai Quarter Life Crisis atau tepatnya di kondisi Overthinking!
Overthinking itu apasih? Wajar ga sih? Gapapa kok, ini wajar banget. So, kita kenalan dulu deh sama si Overthinking ini biar kalian ga kaget atau jadi stress ngadepinnya😁
Overthinking itu menurutku keadaan dimana seseorang lebih mengedepankan rasa takut buat ngejalanin hidupnya sendiri dibandingkan dengan merencanakan hidup itu sendiri. Penyebabnya bisa macem-macem, ada dari pekerjaan, pertemanan, percintaan dan masih banyak lagi. Terlihat wajar aja tapi dampaknya sangat seriusss loh!
Sedikit bercerita, satu hari yang lalu aku join zoom bersama kakak-kakak hebat tentunya yang berasal dari daerah bahkan negara yang berbeda-beda buat ngebahas pengalaman mereka di negeri orang. Disana mereka keliatan nggak seperti apa yang aku fikirkan sebelumnya. Emang apa yang aku pikirin? Aku mikir, pasti kakak-kakak itu akan memperlihatkan keindahan, kemewahan atau memaksa untuk mengikuti jejak mereka. Sampai lah di rangkaian diskusi, aku bener-bener mendapatkan sesuatu yang membuat overthink ku sedikit tenggelam.
Saat itu, mereka bilang “buat apa takut sedangkan kamu belum mencoba? Tapi ketika kamu mulai mencoba hal itu hasil dari paksaan orang lain?” secara kasarnya begitu. Pertanyaan yang membuat pikiranku mulai terbangun. Memang setiap paksaan itu tidak semuanya negatif, tapi kalau kita punya prinsip akan jauh lebih baik.
Kemudian berlanjut, mereka bilang kalau kita mau dapetin apa yang kita mau ya kita harus minta baik-baik sama yang punya, izin yang sopan. Paham nggak maknanya apa?? yaa, kita harus kerja keras dengan usaha, do’a dan tawakkal. Kata-katanya sering diucap namun jarang dilakukan. Gini deh, kamu mau dapetin duit 1M dari sebuah beasiswa tapi kamu ga ada usaha-usahanya, misal kamu ga survey dulu atau mengumpulkan informasi dan menyiapkannya.
Terlebih lagi, nggak mau berkembang menjadi lebih baik seperti bersikap jujur, percaya diri, respect each others, dan lain-lain. Gimana, layak dapet nggak? Atau gini deh, kamu nyari jodoh pasti cari yang sefrekuensi tapi kalau kamunya nggak memberikan impact baik, apakah bakal sehat-sehat terus perjalanannya? Ya bakal nggak baik juga. So intinya mau dengan siapapun, ngadepin apapun kita mesti siapin diri baik-baik.
Ketika persiapan diri sudah matang (pokoknya banyak-banyak membaca, traveling, atau hal lain yang menambah self development berkembang) kamu bisa dapetin yang namanya percaya diri. Yakin sama kemampuan diri yang membuat diri lebih bersyukur. Mungkin diluar sana ada banyak kebahagiaan yang diraih tanpa sebuah kejujuran, tapi adakah yang dapat menjamin hal itu bakal baik-baik aja?? Nggak ada yang tahu, kecuali Allah Sang Maha Merencanakan😇
Jauh diluar sana kita hanya melihat dimedia sosial, indahnya sebuah kehidupan yang membuat kamu makin terpuruk karena nggak sanggup menyamakan keadaan. Memangnya kamu tahu, kerasnya usaha untuk berjalan diatas permukaan bersalju? Membaca artikel berbahasa asing sepanjang hari, atau bahkan rela menabung dan mempersempit waktu berleha-leha agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu, pernah terfikir? Nah, ini seringkali melihat sesuatu hanya dari satu sisi. Apa yang sedang kita kerjakan adalah milik kita, bukan orang lain begitu juga sebaliknya.
Jadi, apa yang harus kamu khawatirkan? Memaksakan keadaan agar seperti orang lain dan melepaskan kesempatan yang seharusnya kamu dapat jika fokus pada dirimu sendiri??? Hmm.. mau ngingetin aja kalau penyesalan itu amat dekat hehee.
Sekilas cerita itu, aku kembali belajar untuk tidak gegabah, harus sabar dan membuat plan sendiri untuk kehidupan. Bagaimana terwujudnya nanti, itu bukan sepenuhnya kita yang pegang. Ada Allah yang sudah mengatur segalanya. Jadikan setiap pencapaian orang lain itu untuk membangunkan diri agar tidak jauh tertinggal dalam ketidakjelasan hidup yang kamu kerjakan. Berikan space untuk berhenti sejenak, lalu bergerak kembali dengan niat yang tulus.
Kamu hebat, bisa lalui semuanya. Buktinya masih bisa berkata “Alhamdulillah”.
Salam hangat dariku, lakukan setiap hal step by step, jangan lupa siapapun punya kesempatan dan kesempatan itu akan diraih hanya dengan melawan diri sendiri bukan orang lain.

Comments
Post a Comment